Selamat datang di Coretan Sederhanaku, Semoga Coretan Sederhana ini Sedikitnya bisa bermanfaat bagi anda"Feliks Jerych"

Senin, 30 Oktober 2017

Menerjang Lintas Terjal


Oleh: Feliks Jerych

DAHLAN ISKAN DAN TANGGAL 17 AGUSTUS
Walaupun Dahlan Iskan selalu merayakan hari ulang tahunnya pada tanggal 17 Agustus, namun sebenarnya Dia tidak begitu yakin dengan kebenaran, bahwa itulah tanggal dia pertama kali membuka suara lewat tangisan pertamanya di bumi ini. Hal ini Dahlan kisahkan saat diberi kejutan oleh jajaran Direksi BUMN (Badan Usaha Milik Negara) usai memimpin upacara kemerdekaan 17 Agustus 2013 yang pada saat itu Dahlan genap berusia 62 tahun. “Saya sebenarnya juga tidak tahu kapan sebenarnya tanggal lahir saya. Tanggal lahir saya ditulis sama kakak saya di balik lemari dengan kapur”, ungkap Dahlan di Gedung Kementerian BUMN, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta.
Bukan Dahlan Iskan namanya jika dia tidak sempat menyematkan candaan dalam kisanya. Walaupun itu hanya untuk memancing pikiran dan hatinya sendiri agar bisa tersenyum, Karena pada dasarnya ekspresi menyenangkan dan mendamaikan itu sudah melekat erat dengan raut sederhananya. Walaupun dia tak pernah menjelaskan tentang apa alasan Dahlan selalu tersenyum, tapi melihat banyaknya biografi yang menceritakan tentang dirinya dan bagaimana kehidupan masa kecilnya, kita bisa menyimpulkan bahwa mungkin itu adalah cara terbaik Dahlan untuk berdamai dengan masa lalunya yang begitu keras dan menantang, namun bisa melewatinya bahkan melampau jauh ke puncak yang tak perna diimpikannya.
Dalam perayaan Kemerdekaan itu juga Dia melanjutkan kisahnya, tentu anda sudah bisa menebak bahwa candaan sudah pasti disertakannya. “hari kelahiran saya sudah tergadai bersama dengan barang-barang perabotan yang saat itu harus dijual untuk mengobati ibu yang sakit. Sehingga satu persatu perabotan rumah dijual untuk biaya berobat. Lemari itu juga dijual, nah tanggal lahir saya kayaknya ikut terjual saat itu bersama perabotan”. Tutur lugas dengan Bahasa sederhana di atas, memberikan pesan yang serius dan jujur tentang situasi nyata yang pernah di alaminya dan masih bersahabat baik dengan memori dan ingatannya. Kata-kata lain yang mengandung makna jenaka yang Dia lontarkan adalah cara Dahlan agar orang yang mendengar kisahnya merasa terhibur di hari bahagianya yang juga bertepatan dengan hari bahagia bagi seluruh Rakyat Indonesia, dan bukan malah meratapi kenyataan dan kekelaman yang pernah mendekap masa kecilnya.
Dahlan Iskan memilih bulan Agustus tanggal 17 sebagai tanggal kelahirannya dan juga sebagai patokan umurnya dalam meniti karir, bukan tanpa alasan atau dia hanya memilih sembarang angka dalam deretan baris dan kolom kalender. Tapi saat itu anak dengan umur seusia dia sudah memahami bahwa 17 Agustus adalah tanggal keramat dalam warisan sejarah bangsa Indonesia. Dan juga ditambah beberapa fakta dari kisah sang Ayah menjadi pedoman dan refrensi tambahannya dalam memilih tanggal 17 Agustus.
 Saat Dahlan menginjak usia sekolah, seperti anak-anak lain tentu dia membutuhkan akte kelahiran sebagai persyaratan administrasi untuk mendaftar sekolah. Lantas Dahlan bertanya kepada Ayahnya. Namun sayangnya sang ayah juga mengaku lupa kapan Dahlan dilahirkan. “Saya Tanya ke Bapak, ‘Pak kapan tanggal lahir saya?’ Bapak bilang juga gak ingat, tapi bapak bilang saya mulai bisa merangkak pas Gunung Kelud meletus, pas mau kemerdekaan, jadi dari kisah itu saya simpulkan saja, dan memilih tanggal 17 Agustus, sebagai tanggal kelahiran saya biar mudah diingat dan tidak lupa lagi. Sehingga kami tidak ragu dan beban lagi untuk menggadai perabot lain dalam rumah, kalau-kalau ada kebutuhan mendadak dalam keluarga, karena tanggal itu sudah ada dalam buku sejarah dan dalam benak dan hati seluruh rakyat Indonesia.

MASA KECIL DI MAGETAN
“Sejuta harapan berbaur dalam cita
Sejuta impian memberontak jiwa
Harapan dan impian niscaya kan berwujud nyata
Asalkan doa dan usaha mengiringi jejak langkah”

Dahlan Iskan lahir di Magetan-Jawa Timur, tepatnya di desa Kebun Dalam Tegalarum, Kecamatan Bando pada tanggal 17 Agustus 1951. Dahlan adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dari pasangan Ayah Mohammad Iskan dan Ibu Lisnah. Kakak pertama Dahlan bernama Khosyatun, kakak keduanya bernama Sofwaty, adik bungsunya bernama Zainuddin.
Berlatar keluarga yang sangat berkekurangan dan hidup di kampung, tentunya bukanlah hal yang aneh bila ada orang yang cita-cita tertingginya hanyalah ingin mendapatkan sepasang sepatu. Jauh sebelum menjadi salah satu orang terpenting di Indonesia, Dahlan kecil mengalami perjalan hidup yang berat dan berliku seperti yang sudah banyak diceritakan dalam biografi dan otobiografinya. Ketika sekolah dia harus menempuh perjalanan jauh tanpa menggunakan alas kaki. Jangankan sepatu, kelembutan tekstur sandalpun tak pernah dirasahkan kaki mungilnya. Hal itulah yang menjadi dasar atas penentuan cita-citanya, yakni ingin mendapatkan sepasang sepatu, kisah ini, bisa kit abaca dalam buku berjudul Sepatu Dahlan. Memang, jika dibandingkan dengan situasi saat ini, cita-cita dahlan kecil hanyalah sebuah lelucon sederhana yang tidak terlalu sulit untuk menemukan calon korbannya, siapapun bisa tertawa.
Keluarga Kecil Dahlan Iskan sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana. Semasa kecil, Dahlan hanya memiliki satu stel kaos dan celana, serta satu sarung untuk mengatasi panas dan dinginnya dunia. Sarung adalah benda yang serba guna bagi Dahlan, bisa menggantikan peran celana, peran celana dan baju, juga sebagai selimut dikala malam datang. Walaupun hidup di kampung dan dijerat kemiskinan, dia tidak pernah lupa untuk berbicara dengan Tuhannya, tentang kondisinya, tentang kehidupannya, dan juga masa depannya; dan Anda tahu, sarung itu juga kembali berfungsi di sana, ketika dia beribadah. Kemiskinan yang membekap mereka terkadang membuat Dahlan kecil merasa nyeri di perut karena menahan lapar. Walau begitu keluarga sederhana ini punya perinsip, “kemiskinan bukan berarti harus meminta-minta untuk dikasihani, melainkan harus dihadapi dengan bekerja dan berusaha.” Ayah Dahlan bilang “Kemiskinan yang dijalani dengan tepat, akan mematangkan jiwa”. Hal itu yang menumbuhkan karakter Dahlan menjadi seorang anak yang tanggu, dan manusia yang tidak mudah menyerah dengan keadaan.
Dalam menjalankan bahtera rumah tangga, keluarga Dahlan memegang teguh dan tidak main-main dalam berkomitmen. Ayah dan ibunya menjalani segala sesuatu dengan berdasarkan prinsip yang utuh yakni segala persoalan akan mematangkan jiwa, jika dihadapi dengan bijak.
Masa kini kita bisa melihat di banyak media, baik nasional atau pun internasional; banyak rumah tangga yang gagal dan berujung retak karena faktor ekonomi. Bukan bermaksud membandingkan dengan kehidupan yang di alami oleh orang tua Dahlan. Namun dalam menyikapi ini kita haruslah berpikir bijak, mungkin kisah Dahlan tentang kehidupan keluarganya bisa menjadi inspirasi untuk kita. Dahlan Iskan mengisahkan bahwa orang tuanya adalah pasangan yang harmonis. Walau keluarga mereke dililit kemiskinan dan serba kekurangan, ayah dan ibunya hampir tidak memiliki pertengkaran berarti. “Seingat saya hanya ada satu peristiwa yang membuat Ayah dan Ibu beradu mulut. Di samping rumah ada pohon pisang, saat itu daun pisang itu sangat lebat. Ibu sangat suka melihat daun pisang yang rimbun. Tanpa sepengetahuan Ibu, Ayah memotong daun pisang itu kemudian dijualkan di pasar, karena butuh uang. Setelah mengetahui hal itu, kontan saja ibu sangat marah dan terjadilah adu mulut”.

Dibesarkan oleh keluarga yang harmonis, tentu merupakan impian semua anak. Dan Dahlan kecil sangat beruntung karena mendapatkan kesempatan itu, banyak hal yang dia pelajari dari orang tuanya dalam membentuk sikap, prilaku serta semangat kerja yang tentunya warisan dari sang Ayah. Sepulang sekolah, Dahlan tak langsung bermain. Dia harus bekerja membantu orang tuanya seperti menyabit rumput, menjadi kuli seset di kebun tebu, menggembala kambing dan lainnya. Namun hal ini tak lantas membuat Dahlan kecil kehilangan keceriaannya. Dia tetaplah anak kecil yang periang dan sesekali nakal.
Pernah suatu hari, karena sangat ingin memiliki sepatu, Dahlan membongkar lemari ayahnya guna mencari siapa tahu ayahnya menyimpan sejumlah uang disana. Ia juga pernah mendapatkan nilai merah di raport-nya. Ketika ia telah berhasil memiliki sepatu, ia tetap ‘nyeker’ berjalan ke sekolah dan sepatunya ia ‘tenteng’ agar tetap awet dan tidak rusak.
Pengalaman kenakalan Dahlan waktu kecil yang lain adalah saat adu menunggang kerbau dan Dahlan terjatuh dari kerbaunya yang mengakibatkan mulutnya terluka.

Titik Awal Karir Dahlan Iskan
Setamatnya di Alyah (setingkat SLTA), Dahlan Iskan melanjutkan sekolahnya di Fakultas Hukum IAIN Sunan Ampel dan di Universitas 17 Agustus. Semasa kuliah Dia lebih senang mengikuti kegiatan kemahasiswaan seperti Pelajar Islam Indonesia dan menulis majalah mahasiswa dan Koran mahasiswa ketimbang mengikuti kuliah. Karena keasyikannya itu Dia jadi tidak meneruskan kuliahnya.
Kemudian Dahlan Iskan hijrah ke Samarinda, Kalimantan Timur, mengikuti jejak sang kakak tertuanya. Disana Dia menjadi reporter sebuah Surat Kabar lokal. Kecakapannya dalam menulis, membuat tulisan-tulisannya menjadi pilihan favorit banyak pembaca.
Pada Tahun 1976, Dahlan kembali ke Surabaya Memenuhi panggilan pihak majalah Tempo. Bermodalkan kemampuan merangkai katanya yang luar biasa, dia menulis degan gaya features tentang tenggelamnya kapal Tampomas, dan meletakannya di Headline News Tempo. Dan tulisannya itu pun mendapat respon yang sangat luar biasa dari banyak pembaca. Prestasi inilah, yang menempatkan Dahlan menjadi Kepala Biro Tempo Jawa Timur.

Dahlan Iskan dan Jawa Pos
Jawa Pos didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949 dengan nama Djawa Post. Pada akhir tahun 1970-an, omzet Jawa Pos mengalami kemerosotan yang tajam. Tahun 1982, oplahnya hanya tinggal 6.000-an eksemplar saja. The Chung Shen merasa Dia tidak mampu lagi mengurus perusahaannya, akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Mendengar kabar itu Direktur Utama PT Grafiti Pers, Penerbit Tempo yaitu Eric Samola memutuskan langsung membelinya. Kemampuan, prestasi dan etos kerja yang dimiliki Dahlan Menghilangkan keraguan dari Eric Samola untuk membeli perusahaan yang pada awal berdirinya bernama Java Post itu.  Dan pada tahun 1982 Dia dipromosikan menjadi pemimpin Koran Jawa Pos.
Insting dan Intuisi dari seorang Direktur kondang yang ada pada diri Eric Samola, pada kenyataannya tidaklah meleset. Terbukti setelah Dahlan menjadi pemimpin, banyak gebrakan yang dibuatnya, dan pada akhirnya Jawa Pos kembali berjaya dan persaingan yang awalnya hanya melibatkan Surabaya Post dan Kompas, menjadi sangat ketat karena ide-ide cemerlang yang membekali Jawa Post. Salah satu ide cerdas yang dituangkan Dahlan adalah ketika melihat budaya di masyarakat membaca Koran pada sore hari. Dia memutuskan bahwa Jawa Pos harus memilih jalan berbeda, yakni terbit dan dibagikan di pagi hari. Tujuannya agar Jawa Pos bisa lebih cepat menyapa masyarakat di balik koran-koran yang lain.
Ide ini mendapat tantangan dan rintangan dari stafnya sendiri, namun Dahlan tidak menyerah, Dia mengatakan justru itulah kesempatan Jawa Pos. Pagi adalah awal dari segala aktivitas. Terbit dan dibagikan pada pagi hari akan membentuk opini bahwa Jawa Pos lebih cepat meliput berita dan lebih cepat mengetahui berita dibandingkan koran lain. Akhirnya Jawa Pos terbit di pagi hari. Awalnya masyarakat kaget ada Koran yang terbit di pagi hari. Tetapi dengan sabar Dahlan dan timnya mengedukasi masyarakat untuk membaca Koran di pagi hari. Dahlan membentuk opini bahwa lebih cepat mengetahui berita yang up to date itu lebih cerdas dan lebih keren. Untuk hal ini Dahlan Iskan bahkan terjun langsung dalam memasarkan Koran Jawa Pos.
Perlahan Jawa Pos hampir tidak ada saingannya karena Koran lain tetap terbit sore hari. Dalam kurun waktu 5 tahun Jawa Pos berhasil terbit dengan oplah 126.000 eksemplar. Pada tahun 1987 omset Jawa Pos pun naik 20 kali lipat. Dari Surat Kabar yang hampir gulung tikar, Jawa Pos menjadi Surat Kabar yang spektakuler dan Jawa di bawah kepemimpinan Dahlan juga berhasil merubah kebiasaan masyarakat dari membaca koran di sore hari menjadi pagi hari.
Melihat keberhasilan Jawa Pos, Koran yang lain juga ikut-ikutan terbit pagi karena takut kehilangan pasar.
Dahlan Iskan dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang pekerja keras, dan penuh prinsip. Dari situlah ambisiusnya tumbuh dan berkembang. Dia berpikir kesuksesannya dalam menyelamatkan Jawa Pos, tidak terlalu bernilai karena waktu akan membunuhnya kembali. Maka dari situ dia mengembangkan jaringan media Jawa Pos, yang menerbitkan Koran, Majalah dan juga Surat Kabar untuk daerah lain. Jaringan ini adalah Jawa Pos News Network (JPNN), JPNN kemudian menjelma menjadi jaringan media terbesar di Indonesia. Keinginannya untuk fokus mengurus jaringan baru itu sangat tinggi. Dia juga mempertimbangkan eksistensi Jawa Pos agar tetap hidup dan tidak terganggu karena konsentrasinya terbagi, maka pada tahun 1993 dia mengundurkan diri dari Pimpinan Redaksi dan Pimpinan Umum Jawa Pos.
Tahun 1997 Dahlan Iskan membangun gedung pencakar langit yang terkenal di Surabaya dengan nama Graha Pena. Gedung ini menjadi pusat aktivitas JPNN. Selain di Surabaya, Dahlan Iskan juga membangun gedung serupa di Jakarta mengingat Jakarta adalah ibukota Indonesia dan untuk lebih mengukuhkan keberadaan JPNN di tanah air.
Dahlan juga melirik media elektronik dengan mendirikan stasiun TV lokal surabaya yaitu JTV dan SBO, Batam yaitu Batam TV, di Pekanbaru yaitu Riau TV, FMTV di Makassar, PTV di Palembang, dan Parahyangan TV di Bandung dan di kota-kota lainnya yang mencapai 34 stasiun televisi lokal.

Dahlan Menjadi Dirut PLN
Kesuksesan Dahlan Iskan dalam mengembangkan Jawa Pos Group merebak dimana-mana. Setiap saat media cetak dan elektronik meliput keberhasilan anak desa dari Jawa Timur itu. Di masa yang sama, Fahmi Mochtar yang pada saat itu menjabat sebagai Dirut PLN banyak menuai kritikan. Akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mendengar banyak hal tentang keberhasilan Dahlan Iskan, mengeluarkan keputusan untuk mengangkat Dia menjadi Dirut PLN menggantikan Fahmi Mochtar.
Banyak pihak yang tidak setuju dan meragukan hal itu. Sebenarnya keraguan dan ketidak setujuan yang disampaikan sangatlah beralasan. Bagaimana mungkin orang yang hanya lulusan SLTA dan tidak lulus kuliah bisa memimpin PLN.
Lagi-lagi keteguhan dan keuletan Dahlan kembali diuji dan ditantang. Menanggapi hal itu Dahlan Iskan dengan santainya menjawab “PLN ini tempat berkumpul orang-orang hebat, karyawan lulusan SMA jurusan terhebat, Fisika, jurusan yang dianggap paling pintar. Lalu, masuk fakultas teknik elektro ITB, yang juga terhebat. Lulus ITB, diseleksi lagi masuk PLN oleh senior-senior yang hebat. Tidak diragukan lagi, PLN adalah kumpulan orang-orang terhebat dan terpintar di negeri ini” “Ya. Yang dibutuhkan sekarang adalah manusia bodoh seperti saya”.
Jawaban Dahlan itu tentu sangat diplomatis, dirangkai dengan cerdas dan bermajas, kalau kita mencernanya dengan serius sebenarnya disana kita akan menemukan kritikan pedas juga. Yakni Kalau orang-orang hebat yang ada di PLN tidak bisa memberikan dampak apa-apa dalam perubahannya. Berarti PLN membutuhkan orang bodoh. Tentu di sini dia merendah dengan mengatakan “orang bodo seperti saya” Dalam hal ini, dia menyerahkan segalanya kepada masyarakat siapa sebetulnya yang bodoh.
Hari pertama Dahlan bekerja di PLN, Dia langsung membuat gebrakan antara lain: bebas byar-pet se Indonesia dalam waktu enam bulan, gerakan sehari sejuta sambungan, pencabutan capping yaitu batas tarif listrik industri, sehingga lebih adil dan dapat menumbuhkan iklim investasi di Indonesia.
Selain program di atas. Dahlan Iskan juga membangun sejumlah besar proyek untuk PLN seperti membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Di tahun sebelum kepemimpinan Dahlan, PLN hanya berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan.
Benar saja, dibawah kepemimpinan Dahlan Iskan yang full visi dan memiliki etos kerja yang tinggi, PLN memiliki banyak kemajuan. Seperti tidak byar-pet lagi dan pelayanannya lebih profesional.
Dahlan Iskan menjabat Direktur Utama PLN hanya dua tahun karena pada tanggal 19 Oktober 2011, Presiden SBY menunjuk Dahlan Iskan menjadi Menteri BUMN menggantikan Mustafa Abubakar yang sedang sakit.
Sebenarnya Dahlan sangat berat meninggalkan PLN, karena banyak programnya yang belum rampung dan visi yang Dia bangun untuk mereformasi PLN masih sedikit yang terwujud mengingat masa jabatannya yang masih seumur jagung 2 tahun.

Dahlan Menjadi Menteri BUMN
Dahlan Iskan terlahir dari keluarga yang penuh prinsip dan ambisius. Salah satu prinsip yang diwariskan sang Ayah adalah walaupun sederhana dan dililit kemiskinan, tetapi jangan biarkan diri untuk dikasihani. Jika kita melakukan semuanya dengan baik, maka hal itu akan menuntun kita pada kematangan jiwa. Prinsip itu selalu terpatri dalam sanubari Dahlan. Dan terbukti hal itulah yang menghantarkan dirinya dalam merengkuh berbagai prestasi, dan kini Dahlan pun selangkah lagi ke gerbang Kementerian Badan Usaha Milik Negara.
Bagi Dahlan mencintai pekerjaan adalah hal yang paling menentukan untuk meraih kesuksesan. Siapa pun orangnya, jika dia mencintai pekerjaannya maka orang itu sudah pasti ditunggu oleh kesuksesan. Karena orang mencintai pekerjaan selalu melaksanakan segala sesuatunya dengan hati dan tentu akan selalu bersungguh-sungguh.
Tanggal 17 Oktober 2011 adalah hari yang paling mengharukan bagi Dahlan Iskan. Ada dua hal yang membuat Dia tak bisa menahan isak. Disatu sisi Dahlan sedikit berat meninggalkan PLN yang dicintainya, karena PLN masih terlalu belia setelah dia diangkat menjadi Pimpinan di sana. Dan masih ada beberapa programnya yang belum terwujud. Tapi bagaimana pun, kemampuan Dahlan dalam memimpin dianggap lebih besar jika hanya memimpin PLN saja. Disisi lain tentu sebagai manusia biasa yang hanya berasal dari kampung, Dia tidak bisa menahan gejolak yang deras mengalir disetiap nadinya karena dianggap memiliki kemampuan dan ditunjuk untuk memimpin BUMN. Bagaiman tidak, Seorang anak kcil yang hanya bercita-cita ingin memiliki sepasang sepatu kini menjelma menjadi seorang pemimpin BUMN. Tentu itu semua limpahan berkat dari Sang Maha Cinta sebagai balasan atas usaha, kerja keras dan kesabaran yang tinggi dari seorang Dahlan Iskan.

Menurut data waktu itu, tidak dapat dinafikan bahwa BUMN sedikit buruk citranya karena orang-orang yang ada di dalamnya begitu ambisius dan memiliki prestasi cukup tinggi dalam menyelewengkan dana. Sehingga saat diangkat menjadi Menteri BUMN, Dahlan sebagai orang baru yang akan menjadi pimpinan di sana, dikejutkan dengan sebuah pertanyaan. Walau demikian, sebenarnya Dahlan tidak terlalu terkejut juga, karena Dia sudah terbiasa mengerjakan dan menggerakan sesuatu dengan cinta. “BUMN adalah lembaga yang sering menjadi sasaran empuk korupsi, bagaimana menurut anda?” Menanggapi pertanyaan seperti itu, Dahlan tersenyum sambil menjawab “Menurut pengamatan saya, di lembaga ini ada 10% orang yang jujur dan ada 10% orang yang tidak jujur. Sedangkan yang 80% berada di tengah-tengahnya, tergantung yang memimpin. Jika yang memimpin termasuk orang yang jujur maka yang 80% tadi ikut yang jujur sehingga yang jujur menjadi 90%. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur maka yang 80% juga ikut yang tidak jujur sehingga yang tidak jujur juga menjadi 90%. Jadi kembali lagi ke pemimpinnya” Tentu merupakan sebuah jawaban yang sangat cerdas. Lewat jawaban berbentuk perumpamaan di atas, Dahlan ingin mengedepankan soal integritas seorang pemimpin. Artinya semua tergantung pemimpinnya, ke arah mana pemimpinnya ingin membawakan lembaga itu. Pada kesempatan itu juga, Dahlan menyadari bahwa dia belum memulai bekerja. Jadi Dia tidak terlalu banyak memberikan jawaban dan janji-janji, Dahlan berpiki biarkan waktu yang nantinya akan menghantarkan jawaban-jawaban itu ke tengah tengah masyarakat.
Semenjak menjadi menteri BUMN, Dahlan Iskan melakukan beberapa gerakan. Salah satunya adalah membersihkan BUMN dari korupsi. Langkah awalnya adalah dengan memberi kriteria khusus dalam mengangkat CEO di perusahaan BUMN. Salah satu kriterianya adalah memiliki integritas yang tinggi. Syarat yang lain adalah memiliki antusias untuk maju.

Menurut Dahlan ada dua hal yang paling bisa menentukan langkah sebuah lembaga ke arah yang lebih baik, yakni integritas dan antusiasme yang tinggi untuk maju. Dahlan berpikir, zaman sekrang tidak terlalu sulit untuk menemukan orang yang pandai. Orang-orang zaman sekarang pandai-pandai semua, tapi banyak diantaranya yang salah menggunakan kemampuan atau kepandaiannya itu. Jadi jika orang pandai tidak memiliki integritas atau antusias untuk maju, maka tamatlah riwayat lembaga itu, tamatlah riwayat Indonesia tercinta ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar